BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Era baru dalam
dunia pendidikan merupakan trobosan yang dilakukan dalam
mengembangkan dunia pendidikan, baik dari sistem dan metode. Hal ini berkaitan
erat dengan sistem informasi yang dibutuhkan dalam mengomunikasikan berbagai
metode yang diterapkan. Nuansa yang digunakan dalam konsep ini adalah, bagaimana
dunia pendidikan berusaha menggunakan perangkat komputer, yang dapat
diaplikasikan sebagai sarana komunikasi untuk meningkatkan kinerja dunia
pendidikan secara signifikan.[1]
Kita bisa saksikan sendiri
secara langsung bahwa, perkembangan informasi di era digital saat ini telah
meningkat secara pesat. Pertukaran informasi dengan cepatnya berganti bahkan
dalam hitungan menit. Informasi terkini yang terjadi di suatu wilayah dapat
diperoleh dengan mudahnya, sehingga keberadaan teknologi informasi ini begitu membantu
proses kehidupan manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Hal ini berlaku pula
dalamn dunia pendidikan. Perkembangan teknologi
informasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam
proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan
teknologi informasi ada 5 (lima) pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu
dari pelatihan ke penampilan, dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, dari
kertas ke “on line” atau saluran, fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja
dan dari waktu siklus ke waktu nyata.
Hal ini memberi tantangan
tersendiri bagi pelaku pendidikan untuk turut ambil bagian dalam sistem yang
hampir semuanya serba digital. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional No. 20 tahun 2003, ternyata telah disadari penerimaan pengakuan bahwa
sudah bukan masanya mengandalkan pendekatan konvensional saja dalam
menyelenggarakan sistem pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan bukan
hanya di ruang tertutup dengan buku dan pendidik, tapi juga di
lingkup-lingkup luar sekolah yang bisa dijangkau.
Revolusi teknologi informasi telah mengubah cara kerja manusia mulai dari cara
berkomunikasi, cara memproduksi, cara mengkoordinasi, cara berpikir, hingga
cara belajar dan mengajar. Selain itu, kemajuan teknologi informasi telah
mengaburkan batas organisasi, pasar, masyarakat, ruang dan waktu. Teknologi
informasi telah menjadi fasilitator utama bagi berbagai kegiatan, tidak
terkecuali pada bidang pendidikan, diantaranya dalam bentuk teknologi komputasi
multimedia, yang merupakan suatu era baru dalam dunia informasi modern yang
telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir.
Dalam hal ini berbagai
bentuk komunikasi dilakukan sebagai salah
satu media pendidikan dengan
menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail,
dan lainnya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui
hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media
tersebut. Guru tak mesti melakukan
semunya di sekolah, seperti murid yang juga tak selamnya fokus pada apa yang
diperoleh di sekolah. Dengan menggunakan berbagai media tadi, semuanya dapat
diefektifkan, entah jarak ataupun efesiensi waktu yang digunakan. Tak harus
menunggu waktu esok di sekolah jika memang terdapat informasi penting yang akan
disampaikan.
Adapun masalah yang muncul
kemudian, dapat diatasi dengan memaksimalkan teknologi yang dapat digunakan
berdasarkan letak strategis sekolah. Dengan adanya pemanfaatan teknologi
informasi bagi dunia pendidikan, maka dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dengan melakukan
perbaikan kondisi pendidikan.[2]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana Pengembangan Sistem
Informasi Manajemen Pendidikan?
2.
Apa saja aplikasi dalam
pengembangan SIM?
3.
Bagaimana langkah-langkah
pengembangan SIM?
4.
Bagaimana identifikasi faktor
manusia dalam pengembangan SIM?
5.
Bagaimana Pemanfaatan Keberagaman dalam Sistem Informasi dan Teknologi
Pendidikan pada Lingkungan Kerja.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengembangan Sistem Informasi
Manajemen Pendidikan
Pengembangan sistem merupakan
perubahan-perubahan yang dilakukan untuk meraih hasil yang lebih baik dari
sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan dengan merenovasi total apa saja yang sudah
tidak diperlukan lagi, atau dengan melakukan revisi terhadap hal-hal yang sudah
bagus, tapi masih butuh pengembangan. Beberapa kendala yang sering muncul dan
bisa dilakukan perbaikan sebagai berikut,
1. Kesalahan yang tidak sengaja, yang menyebabkan kebenaran
data kurang terjamin.
2. Tidak efisiensinya operasi pengolahan data tersebut.
3. Adanya instruksi-instruksi atau kebijaksanaan yang baru
baik dari pemimpin atau dari luar organisasi seperti peraturan pemerintah.[3]
Dalam
melakukan pengembangan tersebut, diperlukan sistem manajemen yang sesuai dengan
bentuk perubahan yang dilakukan. Sistem yang tidak boleh melenceng dari
program-program yang akan diterapkan maupun yang telah diterapkan tapi masih
akan digunakan dalam sistem perubahan yang akan dilakukan.
Menurut Buford dan Bedein (1998)
ada empat kegiatan yang dapat dilakukan dalam mengembangkan sistem informasi
manajemen, yaitu perencanaan, implementasi, dan penilaian. Sistem tersebut dapat dibagi ke dalam dua fokus yang
harus menjadi titik perhatian utama, yaitu perencanaan dan implementasi.
Adapun perencanaan
sistem informasi manajemen adalah pendeskripsian secara komprehensif tentang
informasi manajemen yang merupakan penstrukturan database yang
diperlukan, pendefinisian, alur informasi, dan penetapan laporan-laporan yang
diperlukan. Sedangkan implementasi
mencakup kegiatan-kegiatan penyediaan fasilitas yang diperlukan, pengadaan
peralatan pemrosesan data, serta penyiapan dan pelatihan tenaga. Dan terakhir, penilaian adalah menetapkan
keberhasilan sistem informasi manajemen dalam mencapai tujuan.[4]
Singkatnya,
setiap perencanaan yang dilakukan harus sesuai dengan implementasi yang
diterapkan. Kemudian, saat melakukan evaluasi, tujuannya untuk memantapkan apa
saja yang telah direncanakan melalui program yang telah disusun dengan rapi.
Evalusi dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik pada penerapan selanjutnya.
Jika ada hal yang harus dibenahi makan harus egera dibenahi. Begitupun yang
harus dikembangkan maka harus sudah ada solusinya yang bisa segera diterapkan.
B.
Sistem
Informasi yang Digunakan
Dalam
pengembangan sistem manajemen pendidikan, terutama dalam era komputasi dan
digital saat ini, tentunya diperlukan berbagai fasilitas yang bisa
dimanfaatkan. Dalam hal ini terdapat dua aplikasi pokok yang seringkali
diperlukan dalam pelaksanaanya.
1.
Otomatisasi Kantor
Otomatisasi Kantor merupakan sistem yang digunakan untuk mempermudah segala
pekerjaan yang berpusat di kantor. Dalam hal ini berbagai perangkat diperlukan
agar sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Perangkat-perangkat ini
nantinya akan menghubungkan orang-orang yang terkait dengan sistem manajemen
yang telah dibangun dari kantor, baik orang berada di dalam kantor sendiri,
maupun orang luar yang ada kaitannya dengan sistem yang telah dibangun.
Adapun
aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan adalah Pengolahan
kata (word
processing), Surat
elektronik (e-mail), Voice mail, Kalender elektronik, Konferensi audio, Konferensi video, Konferensi computer, Transmisi faksimil, Videotex, Pencitraan (imaging).
Berbagai
aplikasi tersebut dapat kita kembangkan dengan menyiapkan jaringan WiFi di
kantor. Dengan jaringan internet yang selalu tersedia, maka pengembangan
aplikasi dapat dilakukan secara bertahap. Walaupun tak semuanya, setidaknya ada
pergeseran menanjak dario waktu ke waktu.
2. Distance
learning
Selanjutnya
ada distance learning. Sistem ini digunakan untuk mengefisienkan jarak dan
waktu yang sering menjadi kendala dalam dunia pendidikan.
Distance learning sendiri merupakan
sistem belajar mengajar yang dilakukan dari jarak jauh. Biasanya dibangun
berbasis WEB.[5] Distance learning bisa diterapkan manakala proses belajar mengajar di
kelas tidak tuntas dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Selain itu, Distance
learning bisa diterapkan saat ingin berinovasi dengan
mendatangkan pengajar dari daerah lain, tapi tak bisa hadir secara langsung
dengan beratatap muka.
Dalam hal
inilah diperlukan berbagai aplikasi yang telah disebutkan sebelumnya, seperti
Video canfrence atau Video call berbasis komputer. Jika tidak memungkinkan,
maka Voice Confrence juga sudah memadai. Intinya, keberadaan Distance
learning akan sangat membantu, terutama dalam mengefesienkan
jarak dan waktu.
C. Langkah-Langkah
Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan
SIM pendidikan merupakan sistem yang harus terus berjalan dari waktu ke waktu.
Hal ini dilakukan agar perencanaan, implementasi, dan evalusi, selalu berjalan
beriringan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan.
Dalam mengembangkan
SIM Pendidikan terdapat
beberapa cara yang bisa dilakukan, di
antaranya menggunakan beberapa metode berikut:
1. Metode
siklus hidup pengembangan system
Metode ini seperti yang dijelaskan Raymond
Mc Leod (1995) yang dikutip dari Eko Nugroho (2008) merumuskan bahwa sistem
SHPS terdiri atas lima fase, dengan empat fase pertama disediakan untuk
pengembangan dan yang fase kelima untuk penggunaan. Setiap fase membutuhkan
partisipasi dan kerja sama dari pemakai dan teknisi informasi. Adapun fase-fase
tersebut adalah Fase
perencanaan, Fase analisis, Fase desain atau perancangan, Fase implementasi, dan Fase evaluasi.
2. Metode
prototyping
Dalam pendidikan kita membutuhkan gerak cepat yang dapat menyampaikan
informasi tanpa hambatan berarti.; dalam hal ini, informasi tidak stagnan hanya
pada buku semata, tapi dari berbagai sumber yang bisa didapatkan secara instan
tapi bermanfaat. Di sinilah Prototyping diperlukan.
Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model
kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan
berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis.
Jika diterapkan dalam SIM pendidikan, artinya para pendidik harus memahami
betul teknologi terkini yang sedang berkembang. Istilah bekennya, pendidik
tidak boleh gaptek. Selain itu, peralatan yang berkaitan dengan
teknologi informasi harus tersedia secara memadai.
D.
Faktor Manusia dalam Identifikasi Pengembangan Sistem
Secanggih-canggihnya
teknologi tetap saja memeiliki kekurangan. Berbagai fasilitas dari berbagai
aplikasi tetap saja tak bisa menjamin pengambangan SIM Pendidikan dapat
berjalan dengan baik. Seperti yang diketahui, kecanggihan teknologi juga
membutuhkan tenaga terampil dalam menggunakannya. Di sinilah faktor manusia
berperan. Kemampuan orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan harus
benar-benar teruji.
Selain
menyiapkan sistem yang oke, sumber daya manusia pun harus tersedia dengan
mantap. Teknologi yang canggig ditambah dengan kemampuan manusia yang cekatan
akan melahirkan sistem yang akan berjalan dengan baik.
Yang
paling vital adalah, dalam setiap pengembangan sistem, mulai dari perencanaan,
implementasi, dan evaluasi, manusialah yang menjadi penggerak utamanya. Dalam
hal ini, orang-orang yang memiliki peran dalam SIM Pendidikan, terutama tenaga
pendidik sendiri.
E.
Pemanfaatan
Keberagaman dalam Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan pada Lingkungan
Kerja
Seperti diketahui bahwa dalam satu lingkungan kerja, tentu terdapat
beberapa atau banyak orang yang berkecimpung dalam satu atap. Hal ini berlaku
pula dalam dunia pendidikan. Dengan banyaknya orang-orang yang terlibat, tentu
akan banyak pula tingkat pemahaman yang berbeda-beda, yang bisa terlihat dari
tingkat disiplin ilmu masing-masing.
Adanya
keberagaman ini bisa dimanfaatkan untuk menjalankan program-program sistem yang
berbeda-beda pula. Terutama yang banyak ditemui pada beberapa aplikasi. Di
bawah koordinasi satu manajemen, maka tugas dapat dibagi berdasarkan fungsi
tanggung jawab.
Contohnya
secara umum adalah, ada dua kelompok kerja yang ditetapkan. Dan pada dua
kelompok kerja tersebut dapat dibagi lagi ke berbagai devisi. Kelompok kerja
yang dimaksud adalah, kelompok kerja yang bertugas secara internal dengan
mengurusi segala pengadministrasian, Pelaksanaan sistem, dan perncanaan.
Selanjutnya ada kelompok kerja yang bertugas di bagian eksternal. Pada bagian
ini, tugas mereka adalah mengumpulkan berbagai informasi dari luar kemudian
dibandingkan dengan yang telah dikembangkan. Tujuannya, agar ada perbandingan
dengan sistem yang marak berkembang.
Dengan
demikian, evaluasi akan semakin mudah dilaksanakan dan sistem yang diterapkan
akan terus mengikuti perkembangan yang ada.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sistem manajemen pendidikan akan selalu menagalami
perubahan, baik itu secara perlahan atau pun secara total. Olehnya itu para
pelaku pendidikan atau orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, tidak
cukup dengan pengetahuan yang dimiliki hanya saat setelah sarjana. Tetapi,
perlu pengembangan dari waktu ke waktu mengikuti pergeseran teknologi yang ada.
Beberapa yang harus diperhatikan adalah,
Ö
Informasi yang Up to date
Setiap pelaku pendidikan tak boleh ketinggalan informasi.
Sebab di era digital saat ini, pertukaran informasi begitu cepat. Hampir setiap
hari bahkan menit, informasi selalu berubah. Perubahan ini pula yang
menyebabkan berbagai sistema ikut berubah.
Ö
Kelengkapan Fasilitas
Para pelaku pendidikan tentunya harus dilengkapi dengan
fasilitas yang berhubungan denganj sistem yang dikembangkan. Fasiltas harus
selalu menyesuaikan dengan program-program yang telah ditetapkan. Dan
fasilitas-fasilitas tersebut tentunya harus selalu diperbaharui berdasarkan
program yang berlaku. Contohnya, laptop dan smartphone, kedua perangkat
tersebut seringkali mengalami perubahan terutama dalam hal aplikasi yang
digunakan.
Ö
Skiil dan Kemampuan
Dengan teknologi yang semakin berkembang, tentunya para
pelaku pendidikan tak boleh hanya stagnan pada satu kemampuan yang digunakan
dari tahun ke tahun. Perlu pengembangan diri melalui berbagai
pelatihan-pelatihan yang sesuai atau sejalan dengan sistem yang dikembangkan di
instansi masing-masing.
B.
Saran
Adapun tambahan agar peningkatan SIM semakin
merata adalah, adanya pemerataan di seluruh wilayah pendidikan, mulai dari kota
hingga ke pelosok. Beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut,
Ö
Sistem yang diterapkan harus sesuai dengan seluruh tempat yang ada di
Indonesia, baik yang berada di perkotaan ataupun di pedesaan.
Ö
Keberadaan jaringan internet yang harus tersedia di setiap pusat-pusat
pendidikan yang ada di daerah.
Ö
Pelatihan-pelatihan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Dalam hal ini
pelatihan bisa dilakukan di mana saja, dengan mendatangkan pemater-pemateri
yang kompeten. Tak mesti dilakukan hanya di kota besar.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal,
Ibrahim. Dasar-Dasar Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara 2005). H. 85
Eti Rochaety, dkk, Sistem Impormasi Manajemen Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2005), h. 1
Eko
Nugroho, Sistem Informasi Manajemen: konsep, aplikasi, dan perkembangan
(Yogyakarta: ANDI, 2008), h. 16-18
Gordon
B. Davis, Sistem Informasi Manajemen
(Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1999), h. 253.
Husaini
Usman, Manajemen Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan (Jakarta, PT
Bumi Aksara, 2008), h. 602.
Kamadeva, Software Development and Consulting, diakses dari http://www. kamadeva. com/#sisko-tab
http://wongmulti media.
com/aplikasi-sekolah/sistem-informasi-sekolah-terpadu-mysyster.html
Tata Sutabri, Analisa Sistem Informasi (Yogyakarta: ANDI, 2004,) h.
35-45.
[3] Husaini Usman, Manajemen
Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2008), h. 602.
[4] Bafadal,
Ibrahim. Dasar-Dasar Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara 2005). H. 85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar