Jumat, 20 Juli 2018

pengembangan dan implementasi manajemen pendidikan islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Era baru dalam dunia pendidikan  merupakan trobosan yang dilakukan dalam mengembangkan dunia pendidikan, baik dari sistem dan metode. Hal ini berkaitan erat dengan sistem informasi yang dibutuhkan dalam mengomunikasikan berbagai metode yang diterapkan. Nuansa yang digunakan dalam konsep ini adalah, bagaimana dunia pendidikan berusaha menggunakan perangkat komputer, yang dapat diaplikasikan sebagai sarana komunikasi untuk meningkatkan kinerja dunia pendidikan secara signifikan.[1]
Kita bisa saksikan sendiri secara langsung bahwa, perkembangan informasi di era digital saat ini telah meningkat secara pesat. Pertukaran informasi dengan cepatnya berganti bahkan dalam hitungan menit. Informasi terkini yang terjadi di suatu wilayah dapat diperoleh dengan mudahnya, sehingga keberadaan teknologi informasi ini begitu membantu proses kehidupan manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Hal ini berlaku pula dalamn dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan teknologi informasi ada 5 (lima) pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu dari pelatihan ke penampilan, dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, dari kertas ke “on line” atau saluran, fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja dan dari waktu siklus ke waktu nyata.
Hal ini memberi tantangan tersendiri bagi pelaku pendidikan untuk turut ambil bagian dalam sistem yang hampir semuanya serba digital. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, ternyata telah disadari penerimaan pengakuan bahwa sudah bukan masanya mengandalkan pendekatan konvensional saja dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan bukan hanya di ruang tertutup dengan buku dan pendidik, tapi juga di lingkup-lingkup luar sekolah yang bisa dijangkau. Revolusi teknologi informasi telah mengubah cara kerja manusia mulai dari cara berkomunikasi, cara memproduksi, cara mengkoordinasi, cara berpikir, hingga cara belajar dan mengajar. Selain itu, kemajuan teknologi informasi telah mengaburkan batas organisasi, pasar, masyarakat, ruang dan waktu. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi berbagai kegiatan, tidak terkecuali pada bidang pendidikan, diantaranya dalam bentuk teknologi komputasi multimedia, yang merupakan suatu era baru dalam dunia informasi modern yang telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir.
Dalam hal ini berbagai bentuk komunikasi dilakukan sebagai salah  satu  media pendidikan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan lainnya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru tak mesti melakukan semunya di sekolah, seperti murid yang juga tak selamnya fokus pada apa yang diperoleh di sekolah. Dengan menggunakan berbagai media tadi, semuanya dapat diefektifkan, entah jarak ataupun efesiensi waktu yang digunakan. Tak harus menunggu waktu esok di sekolah jika memang terdapat informasi penting yang akan disampaikan.
Adapun masalah yang muncul kemudian, dapat diatasi dengan memaksimalkan teknologi yang dapat digunakan berdasarkan letak strategis sekolah. Dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi bagi dunia pendidikan, maka dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dengan melakukan perbaikan kondisi pendidikan.[2]

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan?
2.        Apa saja aplikasi dalam pengembangan SIM?
3.        Bagaimana langkah-langkah pengembangan SIM?
4.        Bagaimana identifikasi faktor manusia dalam pengembangan SIM?
5.        Bagaimana  Pemanfaatan Keberagaman dalam Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan pada Lingkungan Kerja.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan
Pengembangan sistem merupakan perubahan-perubahan yang dilakukan untuk meraih hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan dengan merenovasi total apa saja yang sudah tidak diperlukan lagi, atau dengan melakukan revisi terhadap hal-hal yang sudah bagus, tapi masih butuh pengembangan. Beberapa kendala yang sering muncul dan bisa dilakukan perbaikan sebagai berikut,
1.      Kesalahan yang tidak sengaja, yang menyebabkan kebenaran data kurang terjamin.
2.      Tidak efisiensinya operasi pengolahan data tersebut.
3.      Adanya instruksi-instruksi atau kebijaksanaan yang baru baik dari pemimpin atau dari luar organisasi seperti peraturan pemerintah.[3]
Dalam melakukan pengembangan tersebut, diperlukan sistem manajemen yang sesuai dengan bentuk perubahan yang dilakukan. Sistem yang tidak boleh melenceng dari program-program yang akan diterapkan maupun yang telah diterapkan tapi masih akan digunakan dalam sistem perubahan yang akan dilakukan.
Menurut Buford dan Bedein (1998) ada empat kegiatan yang dapat dilakukan dalam mengembangkan sistem informasi manajemen, yaitu perencanaan, implementasi, dan penilaian. Sistem tersebut dapat dibagi ke dalam dua fokus yang harus menjadi titik perhatian utama, yaitu perencanaan dan implementasi.
Adapun perencanaan sistem informasi manajemen adalah pendeskripsian secara komprehensif tentang informasi manajemen yang merupakan penstrukturan database yang diperlukan, pendefinisian, alur informasi, dan penetapan laporan-laporan yang diperlukan. Sedangkan implementasi mencakup kegiatan-kegiatan penyediaan fasilitas yang diperlukan, pengadaan peralatan pemrosesan data, serta penyiapan dan pelatihan tenaga. Dan terakhir, penilaian adalah menetapkan keberhasilan sistem informasi manajemen dalam mencapai tujuan.[4]
Singkatnya, setiap perencanaan yang dilakukan harus sesuai dengan implementasi yang diterapkan. Kemudian, saat melakukan evaluasi, tujuannya untuk memantapkan apa saja yang telah direncanakan melalui program yang telah disusun dengan rapi. Evalusi dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik pada penerapan selanjutnya. Jika ada hal yang harus dibenahi makan harus egera dibenahi. Begitupun yang harus dikembangkan maka harus sudah ada solusinya yang bisa segera diterapkan.


B.     Sistem Informasi yang Digunakan
Dalam pengembangan sistem manajemen pendidikan, terutama dalam era komputasi dan digital saat ini, tentunya diperlukan berbagai fasilitas yang bisa dimanfaatkan. Dalam hal ini terdapat dua aplikasi pokok yang seringkali diperlukan dalam pelaksanaanya.
1.         Otomatisasi Kantor
Otomatisasi Kantor merupakan sistem yang digunakan untuk mempermudah segala pekerjaan yang berpusat di kantor. Dalam hal ini berbagai perangkat diperlukan agar sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Perangkat-perangkat ini nantinya akan menghubungkan orang-orang yang terkait dengan sistem manajemen yang telah dibangun dari kantor, baik orang berada di dalam kantor sendiri, maupun orang luar yang ada kaitannya dengan sistem yang telah dibangun.
Adapun aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan adalah Pengolahan kata (word processing), Surat elektronik (e-mail), Voice mail, Kalender elektronik, Konferensi audio, Konferensi video, Konferensi computer, Transmisi faksimil, Videotex, Pencitraan (imaging).
Berbagai aplikasi tersebut dapat kita kembangkan dengan menyiapkan jaringan WiFi di kantor. Dengan jaringan internet yang selalu tersedia, maka pengembangan aplikasi dapat dilakukan secara bertahap. Walaupun tak semuanya, setidaknya ada pergeseran menanjak dario waktu ke waktu.

2.    Distance learning
Selanjutnya ada distance learning. Sistem ini digunakan untuk mengefisienkan jarak dan waktu yang sering menjadi kendala dalam dunia pendidikan.
Distance learning sendiri merupakan sistem belajar mengajar yang dilakukan dari jarak jauh. Biasanya dibangun berbasis WEB.[5] Distance learning bisa diterapkan manakala proses belajar mengajar di kelas tidak tuntas dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Selain itu, Distance learning bisa diterapkan saat ingin berinovasi dengan mendatangkan pengajar dari daerah lain, tapi tak bisa hadir secara langsung dengan beratatap muka.
Dalam hal inilah diperlukan berbagai aplikasi yang telah disebutkan sebelumnya, seperti Video canfrence atau Video call berbasis komputer. Jika tidak memungkinkan, maka Voice Confrence juga sudah memadai. Intinya, keberadaan Distance learning akan sangat membantu, terutama dalam mengefesienkan jarak dan waktu.
     
C.   Langkah-Langkah Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan SIM pendidikan merupakan sistem yang harus terus berjalan dari waktu ke waktu. Hal ini dilakukan agar perencanaan, implementasi, dan evalusi, selalu berjalan beriringan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan.
Dalam mengembangkan SIM Pendidikan terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan, di antaranya menggunakan beberapa metode berikut:
1.      Metode siklus hidup pengembangan system
Metode ini seperti yang dijelaskan Raymond Mc Leod (1995) yang dikutip dari Eko Nugroho (2008) merumuskan bahwa sistem SHPS terdiri atas lima fase, dengan empat fase pertama disediakan untuk pengembangan dan yang fase kelima untuk penggunaan. Setiap fase membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari pemakai dan teknisi informasi. Adapun fase-fase tersebut adalah Fase perencanaan, Fase analisis, Fase desain atau perancangan, Fase implementasi, dan Fase evaluasi.
2.      Metode prototyping
Dalam pendidikan kita membutuhkan gerak cepat yang dapat menyampaikan informasi tanpa hambatan berarti.; dalam hal ini, informasi tidak stagnan hanya pada buku semata, tapi dari berbagai sumber yang bisa didapatkan secara instan tapi bermanfaat. Di sinilah Prototyping diperlukan.
Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis.
Jika diterapkan dalam SIM pendidikan, artinya para pendidik harus memahami betul teknologi terkini yang sedang berkembang. Istilah bekennya, pendidik tidak boleh gaptek. Selain itu, peralatan yang berkaitan dengan teknologi informasi harus tersedia secara memadai.

D.       Faktor Manusia dalam Identifikasi Pengembangan Sistem
Secanggih-canggihnya teknologi tetap saja memeiliki kekurangan. Berbagai fasilitas dari berbagai aplikasi tetap saja tak bisa menjamin pengambangan SIM Pendidikan dapat berjalan dengan baik. Seperti yang diketahui, kecanggihan teknologi juga membutuhkan tenaga terampil dalam menggunakannya. Di sinilah faktor manusia berperan. Kemampuan orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan harus benar-benar teruji.
Selain menyiapkan sistem yang oke, sumber daya manusia pun harus tersedia dengan mantap. Teknologi yang canggig ditambah dengan kemampuan manusia yang cekatan akan melahirkan sistem yang akan berjalan dengan baik.
Yang paling vital adalah, dalam setiap pengembangan sistem, mulai dari perencanaan, implementasi, dan evaluasi, manusialah yang menjadi penggerak utamanya. Dalam hal ini, orang-orang yang memiliki peran dalam SIM Pendidikan, terutama tenaga pendidik sendiri.
E.       Pemanfaatan Keberagaman dalam Sistem Informasi dan Teknologi Pendidikan pada Lingkungan Kerja

Seperti diketahui bahwa dalam satu lingkungan kerja, tentu terdapat beberapa atau banyak orang yang berkecimpung dalam satu atap. Hal ini berlaku pula dalam dunia pendidikan. Dengan banyaknya orang-orang yang terlibat, tentu akan banyak pula tingkat pemahaman yang berbeda-beda, yang bisa terlihat dari tingkat disiplin ilmu masing-masing.
Adanya keberagaman ini bisa dimanfaatkan untuk menjalankan program-program sistem yang berbeda-beda pula. Terutama yang banyak ditemui pada beberapa aplikasi. Di bawah koordinasi satu manajemen, maka tugas dapat dibagi berdasarkan fungsi tanggung jawab.
Contohnya secara umum adalah, ada dua kelompok kerja yang ditetapkan. Dan pada dua kelompok kerja tersebut dapat dibagi lagi ke berbagai devisi. Kelompok kerja yang dimaksud adalah, kelompok kerja yang bertugas secara internal dengan mengurusi segala pengadministrasian, Pelaksanaan sistem, dan perncanaan. Selanjutnya ada kelompok kerja yang bertugas di bagian eksternal. Pada bagian ini, tugas mereka adalah mengumpulkan berbagai informasi dari luar kemudian dibandingkan dengan yang telah dikembangkan. Tujuannya, agar ada perbandingan dengan sistem yang marak berkembang.
Dengan demikian, evaluasi akan semakin mudah dilaksanakan dan sistem yang diterapkan akan terus mengikuti perkembangan yang ada.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sistem manajemen pendidikan akan selalu menagalami perubahan, baik itu secara perlahan atau pun secara total. Olehnya itu para pelaku pendidikan atau orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, tidak cukup dengan pengetahuan yang dimiliki hanya saat setelah sarjana. Tetapi, perlu pengembangan dari waktu ke waktu mengikuti pergeseran teknologi yang ada. Beberapa yang harus diperhatikan adalah,
Ö   Informasi yang Up to date
Setiap pelaku pendidikan tak boleh ketinggalan informasi. Sebab di era digital saat ini, pertukaran informasi begitu cepat. Hampir setiap hari bahkan menit, informasi selalu berubah. Perubahan ini pula yang menyebabkan berbagai sistema ikut berubah.
Ö   Kelengkapan Fasilitas
Para pelaku pendidikan tentunya harus dilengkapi dengan fasilitas yang berhubungan denganj sistem yang dikembangkan. Fasiltas harus selalu menyesuaikan dengan program-program yang telah ditetapkan. Dan fasilitas-fasilitas tersebut tentunya harus selalu diperbaharui berdasarkan program yang berlaku. Contohnya, laptop dan smartphone, kedua perangkat tersebut seringkali mengalami perubahan terutama dalam hal aplikasi yang digunakan.
Ö   Skiil dan Kemampuan
Dengan teknologi yang semakin berkembang, tentunya para pelaku pendidikan tak boleh hanya stagnan pada satu kemampuan yang digunakan dari tahun ke tahun. Perlu pengembangan diri melalui berbagai pelatihan-pelatihan yang sesuai atau sejalan dengan sistem yang dikembangkan di instansi masing-masing.

B.     Saran
Adapun tambahan agar peningkatan SIM semakin merata adalah, adanya pemerataan di seluruh wilayah pendidikan, mulai dari kota hingga ke pelosok. Beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut,
Ö        Sistem yang diterapkan harus sesuai dengan seluruh tempat yang ada di Indonesia, baik yang berada di perkotaan ataupun di pedesaan.
Ö        Keberadaan jaringan internet yang harus tersedia di setiap pusat-pusat pendidikan yang ada di daerah.
Ö        Pelatihan-pelatihan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Dalam hal ini pelatihan bisa dilakukan di mana saja, dengan mendatangkan pemater-pemateri yang kompeten. Tak mesti dilakukan hanya di kota besar.






DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. Dasar-Dasar Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara 2005). H. 85

Eti Rochaety, dkk, Sistem Impormasi Manajemen Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 1
Eko Nugroho, Sistem Informasi Manajemen: konsep, aplikasi, dan perkembangan (Yogyakarta: ANDI, 2008), h. 16-18

Gordon B. Davis, Sistem Informasi Manajemen (Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1999), h. 253.

Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2008), h. 602.
Kamadeva, Software Development and Consulting, diakses dari http://www. kamadeva. com/#sisko-tab
http://wongmulti media. com/aplikasi-sekolah/sistem-informasi-sekolah-terpadu-mysyster.html
Tata Sutabri, Analisa Sistem Informasi (Yogyakarta: ANDI, 2004,) h. 35-45.







[1] Eti Rochaety, dkk, Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 1
[3] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2008), h. 602.
[4] Bafadal, Ibrahim. Dasar-Dasar Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara 2005). H. 85

[5] Eko Nugroho, Sistem Informasi Manajemen, h. 223-229.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar